Minggu, 31 Maret 2013

SHOLAT JAMAAH



SHOLAT JAMAAH
HUKUM, TATA CARA, DAN BEBERAPA KEUTAMAANNYA

APAKAH JAMAAH ITU ?
Jamaah dalam arti bahasa adalah at thoifah (golongan).
Sedangkan dalam arti syara’ adalah menggabungkan sholat makmum dengan sholatnya imam, dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa jamaah bisa dilakukan hanya dengan dua orang yaitu seorang makmum dan seorang imam.

APAKAH HUKUM SHOLAT BERJAMAAH ITU?
Menurut pendapat yang mu’tamad (kuat) hukum sholat jamaah adalah fardlu kifayah sebgaimana yang dipilih oleh Imam Nawawi, sedangkan menurut Imam Rofi’i hukum sholat jama’ah adalah sunnah muakkadah.

BEBERAPA HUKUM SHOLAT JAMAAH

·         FARDLU ‘AIN : dalam sholat jum’at (bagi orang yang berkewajiban untuk melakukannya).
·         FARDLU KIFAYAH : dalam sholat lima waktu (isya’, subuh, dzuhur, asar, maghrib).
·         SUNNAH : dalam sholat sunnah yang di anjurkan untuk berjamaah seperti sholat hari raya, sholat istisqo’ (memohon hujan), sholat jama’ah bagi wanita.
·         MUBAH : dalam sholat sunnah uang tidak dianjurkan untuk berjamaah seperti sholat dluha, sholat sunnah rowatib.
·         KHILAFUL AULA (membedai keutamaan) : Jika si Imam melaksanakan sholat ada’ sedangkan si makmum melaksanakan sholat qodlo’.
·         MAKRUH : Jika imam sholat yang diikuti adalah seorang yang fasik atau ahli bid’ah.
·         HARAM (akan tetapi sholatnya sah) : apabila melaksanakan jamaah di tempat yang bukan miliknya (ghosob), atau takut jika melaksanakan jamaah waktu (sholat)nya akan habis.


SYARAT SAH MELAKUKAN JAMAAH
1.      Seorang makmum tidak megetahui batalnya imam seperti kentut dll.
2.      Seorang makmum tidak boleh meyakini bahwa imam yang dikuti wajib mengqodloi sholat tersebut seperti seorang yang melakukan tayammum dalam keadaan tidak bepergian maka dia harus mengqodlo (mengulang) sholatnya tadi.
3.      Seorang makmum tidak boleh menjadi imam.
4.      Seorang imam tidak boleh umiy (orang yang bacaan fatihahnya masih salah) kecuali apabila makmumnya juga sama-sama umiy.
5.      Seorang laki-laki tidak boleh bermakmum dengan seorang perempuan atau banci

MACAM-MACAM SHOLAT JAMAAH YANG SAH
·         Bermakmumnya orang laki-laki dengan orang laki-laki
·         Bermakmumnya orang perempuan dengan orang laki-laki
·         Bermakmumnya orang banci dengan orang laki-laki
·         Bermakmumnya orang perempuen dengan orang perempuan

MACAM-MACAM SHOLAT JAMAAH YANG  TIDAK SAH
·         Bermakmumnya orang laki-laki dengan orang perempuan
·         Bermakmumnya orang laki-laki dengan orang banci
·         Bermakmumnya orang banci dengan orang perempuan
·         Bermakmumnya orang banci dengan orang banci

SYARAT-SYARAT BERJAMAAH

Syarat – syarat melakukan sholat jamaah ada enam, baik di dalam masjid atau di luar masjid yaitu:

1.      Seorang makmum tidak boleh mendahului barisan seorang imam.
Caranya:
·         Seorang makmum laki-laki berdiri di samping kanan si imam, jika ada satu makmum lagi yang datang maka ia berdiri di samping kiri si imam, kemudian si imam maju ke depan dan kedua makmum tadi merapatkan barisan, atau si imam tetap di tempat akan tetapi kedua makmum tadi harus sama-sama mundur lalu merapatkan barisannya (dan ini yang lebih utama).
·         Urutan barisan dalam berjamaah: untuk barisan yang paling depan adalah orang laki-laki kemudian anak kecil laki-laki, selanjutnya orang banci, dan barisan yang paling akhir adalah jamaah perempuan.
·         Jika ada seorang makmum datang terlambat dan tidak menemukan teman dalam satu barisan, maka ia harus menarik satu makmum yang berada di depannya dengan lima syarat yaitu: 1. Orang yang ditarik ke belakang harus merdeka. 2. Hitungan makmum dalam barisan depan harus lebih dari dua orang makmum. 3. Menyangka bahwa orang yang ditarik tidak akan mengelak. 4.5. Ketika menarik harus disaat sedang berdiri dan  setelah takbirotul ihrom.

2.      Seorang makmum harus mengetahui perpindahan gerakan sang imam dari takbir ke takbir
3.      Seorang makmum harus berniat menjadi makmum (mengikuti sholatnya imam).
Niat jama’ah hukumnya wqajib bagi seorang makmum bukan seorang imam kecuali dalam beberapa sholat tertentu seorang imam diwajibkan niat mwnjadi seorang imam sholat yaitu:
·         Sholat jum’at
·         Mengulang sholat
·         Jamak taqdim disebabkan adanya hujan
·         Nadzar melakukan sholat jamaah
4.      Antara sholat makmum dan sholatnya imam harus ada kesamaan dalam bentuknya, maka tidak boleh sholat maktubah berjamaah dengan sholat jenazah atau sholat kusuf karena yang pertama (sholat jenazah) mempunyai empat takbir dan tidak ada ruku’ sujud dan tasyahhudnya, sedangkan yang kedua (sholat kusuf) mempunyai dua ruku’ dan dua berdirian dalam satu rokaatnya.
5.      Seorang makmum tidak boleh membedai seorang imam dalam melakukan kesunnahan yang berupa fi’liyah (pekerjaan) seperti sujud sahwi dan sujud tilawah dll.
6.      Seorang makmum harus selalu mengikuti gerakan imam, maka apabila si makmum terlambat sampai dua (rukun) berturut-turut atau sebaliknya jika si makmum mendahului si imam sampai dua (rukun) dengan tanpa udzur maka jamaahnya tidak sah.
Apabila keduanya ( makmum dan imam ) berada dalam masjid maka ada satu tambahan rukun yaitu :
1.      Tidak boleh ada sebuah penghalang yang menghalang-halangi sampainya si makmum terhadap si imam, artinya si makmum itu mungkin sampai di tempatnya si imam sekalipun dengan
Apabila salah satu dari imam atau makmum berada di luar masjid atau kedua-duanya berada di luar masjid maka ada tiga tambahan syarat yaitu:
·         Tidak ada perkara yang menghalangi makmum untuk melihat gerakan imam.
·         Seorang makmum bisa sampai pada tempatnya imam dengan tanpa ...............
·         Jarak antara imam dan makmum tidah lebih dari 300 dhiro’ (150 m).[1]

GAMBAR BENTUK-BENTUK JAMA’AH



MASAIL MENGENAI SYARAT-SYARAT BERJAMAAH:
·      Pintu masjid yang tetutup tidak membatalkan sahnya jamaah, kecuali apabila sudah di permanen sehingga tidak bisa dilewati.
·      Jika ada penghalang antara si makmum dengan si imam seperti kaca maka menjadikan tidak sahnya jamaah sekalipun si makmum bisa melihat gerakan-gerakan si imam.
·      Jika keduanya berada dalam satu masjid maka tidak disyaratkan bisa melihat imam.
·      Jika antara makmum dan imam dipisah dengan sebuah jalan atau sungai atau laut (diantara dua kapal) maka tidak membatalkan sahnya berjamaah.
·       



[1] - apabila salah satu (imam dan makmum) berada di luar masjid, maka jarak 150 m itu dihitung dari batas akhir kawasan masjid bukan dari akhir barisan jamaah yang berada di dalam masjid.


SHOLAT JAMAAH
HUKUM, TATA CARA, DAN BEBERAPA KEUTAMAANNYA

APAKAH JAMAAH ITU ?
Jamaah dalam arti bahasa adalah at thoifah (golongan).
Sedangkan dalam arti syara’ adalah menggabungkan sholat makmum dengan sholatnya imam, dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa jamaah bisa dilakukan hanya dengan dua orang yaitu seorang makmum dan seorang imam.

APAKAH HUKUM SHOLAT BERJAMAAH ITU?
Menurut pendapat yang mu’tamad (kuat) hukum sholat jamaah adalah fardlu kifayah sebgaimana yang dipilih oleh Imam Nawawi, sedangkan menurut Imam Rofi’i hukum sholat jama’ah adalah sunnah muakkadah.

BEBERAPA HUKUM SHOLAT JAMAAH

·         FARDLU ‘AIN : dalam sholat jum’at (bagi orang yang berkewajiban untuk melakukannya).
·         FARDLU KIFAYAH : dalam sholat lima waktu (isya’, subuh, dzuhur, asar, maghrib).
·         SUNNAH : dalam sholat sunnah yang di anjurkan untuk berjamaah seperti sholat hari raya, sholat istisqo’ (memohon hujan), sholat jama’ah bagi wanita.
·         MUBAH : dalam sholat sunnah uang tidak dianjurkan untuk berjamaah seperti sholat dluha, sholat sunnah rowatib.
·         KHILAFUL AULA (membedai keutamaan) : Jika si Imam melaksanakan sholat ada’ sedangkan si makmum melaksanakan sholat qodlo’.
·         MAKRUH : Jika imam sholat yang diikuti adalah seorang yang fasik atau ahli bid’ah.
·         HARAM (akan tetapi sholatnya sah) : apabila melaksanakan jamaah di tempat yang bukan miliknya (ghosob), atau takut jika melaksanakan jamaah waktu (sholat)nya akan habis.

SYARAT SAH MELAKUKAN JAMAAH
1.      Seorang makmum tidak megetahui batalnya imam seperti kentut dll.
2.      Seorang makmum tidak boleh meyakini bahwa imam yang dikuti wajib mengqodloi sholat tersebut seperti seorang yang melakukan tayammum dalam keadaan tidak bepergian maka dia harus mengqodlo (mengulang) sholatnya tadi.
3.      Seorang makmum tidak boleh menjadi imam.
4.      Seorang imam tidak boleh umiy (orang yang bacaan fatihahnya masih salah) kecuali apabila makmumnya juga sama-sama umiy.
5.      Seorang laki-laki tidak boleh bermakmum dengan seorang perempuan atau banci

MACAM-MACAM SHOLAT JAMAAH YANG SAH
·         Bermakmumnya orang laki-laki dengan orang laki-laki
·         Bermakmumnya orang perempuan dengan orang laki-laki
·         Bermakmumnya orang banci dengan orang laki-laki
·         Bermakmumnya orang perempuen dengan orang perempuan

MACAM-MACAM SHOLAT JAMAAH YANG  TIDAK SAH
·         Bermakmumnya orang laki-laki dengan orang perempuan
·         Bermakmumnya orang laki-laki dengan orang banci
·         Bermakmumnya orang banci dengan orang perempuan
·         Bermakmumnya orang banci dengan orang banci



SYARAT-SYARAT BERJAMAAH

Syarat – syarat melakukan sholat jamaah ada enam, baik di dalam masjid atau di luar masjid yaitu:

1.      Seorang makmum tidak boleh mendahului barisan seorang imam.
Caranya:
·         Seorang makmum laki-laki berdiri di samping kanan si imam, jika ada satu makmum lagi yang datang maka ia berdiri di samping kiri si imam, kemudian si imam maju ke depan dan kedua makmum tadi merapatkan barisan, atau si imam tetap di tempat akan tetapi kedua makmum tadi harus sama-sama mundur lalu merapatkan barisannya (dan ini yang lebih utama).
·         Urutan barisan dalam berjamaah: untuk barisan yang paling depan adalah orang laki-laki kemudian anak kecil laki-laki, selanjutnya orang banci, dan barisan yang paling akhir adalah jamaah perempuan.
·         Jika ada seorang makmum datang terlambat dan tidak menemukan teman dalam satu barisan, maka ia harus menarik satu makmum yang berada di depannya dengan lima syarat yaitu: 1. Orang yang ditarik ke belakang harus merdeka (bukan hamba sahaya/budak).                   2. Hitungan makmum dalam barisan depan harus lebih dari dua orang makmum. 3. Menyangka bahwa orang yang ditarik tidak akan mengelak. 4.5. Ketika menarik harus disaat sedang berdiri dan  setelah takbirotul ihrom.

2.      Seorang makmum harus mengetahui perpindahan gerakan sang imam dari takbir ke takbir
3.      Seorang makmum harus berniat menjadi makmum (mengikuti sholatnya imam).
Niat jama’ah hukumnya wqajib bagi seorang makmum bukan seorang imam kecuali dalam beberapa sholat tertentu, seorang imam diwajibkan niat mwnjadi seorang imam sholat yaitu:
·         Sholat jum’at
·         Sholat I’adah (mengulang sholat)
·         Jamak taqdim disebabkan adanya hujan
·         Nadzar melakukan sholat jamaah
4.      Antara sholat makmum dan sholatnya imam harus ada kesamaan dalam bentuknya, maka tidak boleh sholat maktubah berjamaah dengan sholat jenazah atau sholat kusuf karena yang pertama (sholat jenazah) mempunyai empat takbir dan tidak ada ruku’ sujud dan tasyahhudnya, sedangkan yang kedua (sholat kusuf) mempunyai dua ruku’ dan dua berdirian dalam satu rokaatnya.
5.      Seorang makmum tidak boleh membedai seorang imam dalam melakukan kesunnahan yang berupa fi’liyah (pekerjaan) seperti sujud sahwi dan sujud tilawah dll.
6.      Seorang makmum harus selalu mengikuti gerakan imam, maka apabila si makmum terlambat sampai dua (rukun) berturut-turut atau sebaliknya jika si makmum mendahului si imam sampai dua (rukun) dengan tanpa udzur maka jamaahnya tidak sah.
Apabila keduanya ( makmum dan imam ) berada dalam masjid maka ada satu tambahan rukun yaitu :
1.      Tidak boleh ada sebuah penghalang yang menghalang-halangi sampainya si makmum terhadap si imam, artinya si makmum itu mungkin sampai di tempatnya si imam sekalipun dengan
Apabila salah satu dari imam atau makmum berada di luar masjid atau kedua-duanya berada di luar masjid maka ada tiga tambahan syarat yaitu:
·         Tidak ada perkara yang menghalangi makmum untuk melihat gerakan imam.
·         Seorang makmum bisa sampai pada tempatnya imam dengan tanpa ...............
·         Jarak antara imam dan makmum tidah lebih dari 300 dhiro’ (150 m).[1]

GAMBAR BENTUK-BENTUK JAMA’AH






MASAIL MENGENAI SYARAT-SYARAT BERJAMAAH:
·      Pintu masjid yang tetutup tidak membatalkan sahnya jamaah, kecuali apabila sudah di permanen sehingga tidak bisa dilewati.
·      Jika ada penghalang antara si makmum dengan si imam seperti kaca maka menjadikan tidak sahnya jamaah sekalipun si makmum bisa melihat gerakan-gerakan si imam.
·      Jika keduanya berada dalam satu masjid maka tidak disyaratkan bisa melihat imam.
·      Jika antara makmum dan imam dipisah dengan sebuah jalan atau sungai atau laut (diantara dua kapal) maka tidak membatalkan sahnya berjamaah.
·       




[1] - apabila salah satu (imam dan makmum) berada di luar masjid, maka jarak 150 m itu dihitung dari batas akhir kawasan masjid bukan dari akhir barisan jamaah yang berada di dalam masjid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar